Minggu, 20 November 2011

Wajah Sudah Berubah (repost karena pengen ngehik)

Wajah Sudah Berubah (repost karena pengen ngehik)
By Duanto A Sudrajat

Mengendarai sepeda motor tua, sekitar pukul 22.00 saya bersama seorang teman bergegas mencari hik angkringan di kawasan barat Solo. Suasana kemarin malam cukup nyaman untuk menikmati segelas kopi, wedang jahe atau wedang ketan panas sembari sesekali menyantap tahu, sundukan usus atau kikil yang dibakar. Kebiasaan nongkrong saat malam seperti ini sulit dihilangkan.

Pak Pekok, nama wedangan yang kami tongkrongi. Uang Rp 7.500 membawa saya dan ahli tata kota spesialis sastra apa aja ini bicara ngalor ngidul. Obrolan seharga santapan ringan nan hangat mengangkat kekaguman kami yang selama lebih dari setahun tidak menapakkan kaki di jalanan kota kelahiran.

Seperti biasa, obrolan diawali seputaran kabar teman-teman, pengalaman hidup, bangunan baru yang berdiri, perubahan tata ruang sampai tingkah polah sekelompok anak muda yang kebetulan saat itu nongkrong ditikar depan. Obrolan ga jelas, dari Thomas Karsten, Hegel, Hannah Arendt, Jalaludin Rumi, Thomas Aquinas, Sang Budha sampai Freud diaduk jadi satu dengan minuman dan santapan hangat, yang bisa jadi merupakan manifestasi kerinduan nongkrong dan berpikir liar. Yah....paling tidak selama beberapa waktu bola pikir liar orang-orang seteres mendapat kanal. Karena dalam hitungan hari, apabila tidak ada kanalisasi seperti ini obat penumbuh rambut bakal laris. Itu sebabnya banyak orang seteres, setidaknya satu orang yaitu si penulis note ini tidak membesar seteres.

Dalam hitungan dua jam, dua angkringan telah kami tongkrongi, pertama Pak Pekok, kali kedua Kidjo. Celana pendek, baju flanel dan jaket hijau tentara serta sandal jepit yang kami pakai identik dengan cara makan ketika digerobak angkringan. Dengan santai, kaki diangkat ke kursi sementara tangan garuk-garuk kepala. Hahahaha ini memang ciri khas angkringan....asli...

Sadar tidak sadar, selama di angkringan ternyata mata saya menatap bangunan tinggi sebelah timur Lapangan Kota Barat (Kobar), apartemen bermerek Paragon berdiri kaku, kerlip lampu di sekeliling nya membentuk seperti apa rupa tempat tinggal mahal ini.

Bersama teman pengagum pagan ini, perjalanan berlanjut, menyusur Jalan Slamet Riyadi, jalan utama kota yang membujur barat ke timur.

Badak kingkong.....ternyata kota ini telah berubah, wajahnya telah dipermak abiiiis. Dinding jalan setahun ini rupanya telah diisi banyak bangunan baru.....begitu pula papan iklan yang aduhai jumlahnya, yang menutup hampir 3/4 lebar jalan. Sangar tenan pokokmen.....asli ndes....sangar-sangar gambare....

Sik tulisan saya stop dulu karena saya ngantuk....besok kalau ingat saya lanjutkan lagi deh...

Solo, 28/12/10, 02.00

Jumat, 23 September 2011

Nurdin Halid 'nyasar' Walminthi

Nurdin Halid 'nyasar' Walminthi

Mengendarai sedan Accord putih keluaran 2011, kemarin sore 'nyaris' Ketua PSSI Nurdin Halid melarikan diri dari kediamannya. Bersama supir pribadi, hampir setengah hari Nurdin berputar-putar di Bundaran HI lantaran hampir seluruh jalan ibukota diblokir ribuan pendemo yang menuntut mundur dirinya.
Beberapa jam mencari jalan keluar, akhirnya sedan putihnya berhasil mendapat jalan keluar, menyusur jalan kampung. Masuk sebuah gang tikus, si sopir tiba-tiba menginjak rem, otomatis Nurdin kaget. Mobil koruptor proyek impor gula dan beras ini nyaris menabrak Sapi.
Dua detik kemudian, kap depan mobilnya langsung digebrak Sapi. Serentetan kata langsung mengalir deras dari mulut.

"Taruh dimana matamu, ga liat orang nyebrang jalan po?!" teriak Sapi sambil berkacak pinggang sembari menggebrak kap mobil dengan kaki depannya.

Tak terima diteriaki, Nurdin bergegas keluar dan menantang berkelahi Sapi. Tangannya langsung menunjuk-nunjuk kepala Sapi sambil teriak-teriak ga jelas.

Mengetahui si pelaku 'nyaris' tabrak lari adalah daftar TO pecinta sepakbola se-Tanah Air, Sapi langsung gembira.

"Ini dia Nurdin si biang kerok sepakbola, awas kau," kata Sapi.

Segera dipanggil teman-temannya untuk menangkap. Selang dua menit, Semut, Kucing, Anjing, dan Tapir pun datang. Nurdin ketakutan melihat rombongan ini datang, segera dirinya berbaik sapa karena takut kena toyor.

"Ampun bapak-bapak. Saya jangan dimassa," katanya memelas.

"Siapa yang mau mukulin anda. Kami mau ajak anda ke Walminthi," kata Semut.

"Disana kita main petak umpet, tempatnya aman. Tidak ada demonstrasi," imbuh Tapir.

Membaca situasi Jakarta dan kota-kota besar yang tidak kondusif lagi untuknya, segera diterima ajakan ke Walminthi. Bertujuh mereka masuk dalam sedan Accord putih, meluncur menyusur jalan yang tidak banyak diketahui orang.

*besok nyambung lagi ya...

selamat minum kopi mocca, Mubarak

Balas dendam, itu yang mau saya lakukan atas kerugian yang dibuat Mubarak satu minggu kemarin. Kopi mocca seribu rupiah yang hilang kemarin tampaknya mendapat ganti Jumat (11/2) dini hari ini. Atau minima saya bisa bernafas tenang karena minuman secangkir itu efektif, pak presiden Mesir ga bisa tidur akibat minuman .
Bagaimana mau tidur, ratusan ribu orang menunggu di depan pintu istana. Apa dia bisa tidur kalau diteriaki orang sak ndayak keceh kayak gitu...... Paling tidak kopi mocca yang diambilnya minggu kemarin efektif bikin ga bisa tidur satu minggu belakangan.
Kali ini kopi mocca secangkir saya ikhlaskan, silakan bapak presiden minum tidak mengapa. Kalau masih kurang pak presiden bilang saja. Perlu lima bungkus lagi, dengan senang hati akan saya belikan. Asal jangan minta satu drum saja, soalnya duit belum cukup alias eman-eman....
Kali ini presiden Mesir dapat giliran kopi mocca gratis. Dalam waktu dekat presiden negara saya bakalan dapat juga gratisan kopi.....lima gelas langsung, tunggu saja, hahaha

Minggu Lalu
Gara-gara Mubarak saya merugi, gara-gara dia juga gelas jatah malam ini melayang.
Sekitar empat hari yang lalu (mungkin), berita beredar menyebut gejolak di Mesir selesai Jumat (4/1). Banyak orang (mungkin) penasaran, sedemikan panjang kah umur pemerintahan H Mubarak atau sedemikian pendek kah nyali miler disana?
Menjawab penasaran, sengaja malam kemarin, mata menunggu berita media pantau inet, lumayan ngantuk juga sebenarnya saat itu, kepala berat karena tidak ada kopi hanya torabika mocca secangkir.
Waktu telah mendekati pukul 12.00, tanda-tanda tak kunjung muncul. Kembali tergerak pertanyaan, aksi proletariat apakah berhasil?
Gelas isi kopi mocca hampir habis, telepon genggam bergetar, kabar dari sahabat. Satu jam bicara lupa pantau Mubarak.
Mata rupanya tak sejalan dengan pikir, tubuh berakhir tergeletak dengan mata tertutup. Dan memang badak kingkong tenan...segelas kopi mocca dini hari tadi terpaksa melayang untuk Mubarak.
Saya rugi satu gelas kopi mocca, saya rugi seribu rupiah, tlendoke tenaaaan...

kopi mocca'nya Mubarak

Gara-gara Mubarak saya merugi, gara-gara dia juga gelas jatah malam ini melayang.
Sekitar empat hari yang lalu (mungkin), berita beredar menyebut gejolak di Mesir selesai Jumat (4/1). Banyak orang (mungkin) penasaran, sedemikan panjang kah umur pemerintahan H Mubarak atau sedemikian pendek kah nyali miler disana?
Menjawab penasaran, sengaja malam kemarin, mata menunggu berita media pantau inet, lumayan ngantuk juga sebenarnya saat itu, kepala berat karena tidak ada kopi hanya torabika mocca secangkir.
Waktu telah mendekati pukul 12.00, tanda-tanda tak kunjung muncul. Kembali tergerak pertanyaan, aksi proletariat apakah berhasil?
Gelas isi kopi mocca hampir habis, telepon genggam bergetar, kabar dari sahabat. Satu jam bicara lupa pantau Mubarak.
Mata rupanya tak sejalan dengan pikir, tubuh berakhir tergeletak dengan mata tertutup. Dan memang badak kingkong tenan...segelas kopi mocca dini hari tadi terpaksa melayang untuk Mubarak.
Saya rugi satu gelas kopi mocca, saya rugi seribu rupiah, tlendoke tenaaaan...

baju lusuh itu beda?

Mempelajari identitas, mungkin bisa membaca literatur pemikiran Spinoza. Namun sebelumnya ada peringatan bahwa belajar filsafat mungkin berakibat pusing, mungkin juga seteres (katanya). Peringatan lainnya, kalau nulis tentang Spinoza bisa bikin botak, jadi nulis yang lain aja karena eman-eman rambut.

Identitas yang melekat dalam diri seorang anak adalah senyum ceria. Cara pandang ini bukanlah salah, karena sudah sewajarnya seperti itu. Namun tak semua anak sama.

Berjalan sebentar di Kota Jambi, tepatnya di Pasar Angso Duo, pikiran bahkan mungkin dada kita akan bedegup. Mata kita pasti terpicing melihat anak-anak kecil usia sekolah ikut bekerja mengupas bawang, mencari ikan, atau menjual pempek keliling.

Arief (11), siang kemarin tengah duduk di sebuah sudut di pasar tradisional terbesar di Jambi, dengan pakaian lusuh. Senyum menghias wajah pelajar sekolah dasar ini ketika saya menyapanya.

"Sedang ngapain?" tanyaku menyapa sambil berkenalan. Tanpa merasa sungkan, dia memperkenalkan diri, kemudian obrolan mengalir, menceritakan apa yang sedang dilakukannya.

Mental yang kuat. Pelajar SD ini berbicara tanpa melirik mata lawan bicara, mungkin karena segan bicara dengan orang tak dikenalnya. Sebuah isyarat mata itu merupakan penanda dirinya tak ambil peduli kehadiran orang lain.

Dengan tatapan jauh ke arah lapak-lapak, anak lelaki berbadan cokelat ini bercerita kebiasaannya seusai pulang sekolah, mencari ikan. Mencari ikan di dalam pasar, tepatnya di selokan-selokan. Kalau tidak begitu, bersama teman dia akan memancing di sungai atau rawa.

Lantas untuk apa memancing? "Kasih ke mamak (untuk lauk). Kalau banyak di jual," ujarnya.

Jawaban itu tentu membuat terhenyak. Apalagi ketika mengetahui tak banyak hasilnya kalau ikan jual. Ketika saya menghitung, dalam sebulan tak sampai dua ratusan ribu didapat.

Biasanya sampai sore aktivitas itu dilakukan.

Dari mulut anak berbaju yang tak lagi bersih ini, apa yang dilakukan menurutnya adalah hal biasa. Tanpa pernah berpikir, anak seusianya sewajarnya bermain di jam-jam itu. "Kito kadang jugo bermain, bang kalau di dalam (pasar)," katanya menjawab pertanyaan kenapa tidak bermain saja dengan teman sepantaran di rumahnya di daerah Legok.

Bukan satu dua anak saja yang melakukan aktivitas seperti itu. Kepala SD Pertiwi, Rosmaidar mengatakan ada sekitar 10 dari keseluruhan 320 anak didiknya yang setiap hari membantu orang tua mencari uang.

"Ada pengupas bawang, asongan, juga jualan makanan," tutur Rosmaidar.

Ros mengatakan apa yang dilakukan muridnya (bekerja) bukanlah beban. "Mereka melakukan biasa saja. Tidak beban, tidak malu," kata kepsek berusia 61 tahun ini.

"Setiap pulang sekolah mereka ke pasar (Angso Duo). Begitulah," lanjutnya.

Tanpa bermaksud membuat berkecil hati anak muridnya, Ros mengatakan beberapa anak memang dari keluarga kurang mampu. Terpaksa mereka bekerja seusai sekolah.

"Keadaan yang mengharuskan begitu. Guru hanya bisa mendorong semampunya," jelasnya.

Di SMP Pertiwi pun sama. Sekolah yang kelasnya masuk siang ini, siswa ada yang bekerja di pasar ketika pagi.

Bagi pengajar berkacamata ini, anak-anak seusia Arief seharusnya berhak mendapat kebahagiaan dan pendidikan.

Ketika anak diajukan pilihan antara bekerja atau bermain-main, menurutnya tentu pilihan anak tidak akan jatuh ke bekerja.

Beda
Membedakan siswa mampu dan kurang mampu caranya cukup mudah. Guru pengajar di sekolah itu, Aziza Firhat mengatakan, dalam pergaulan anak muridnya tidak ada rasa minder. Secara mentalitas, semua murid sulit dibedakan.

Namun membedakan murid yang kurang mampu dengan yang mampu cukuplah mudah. Hanya cukup dengan pandangan mata saja.

"Bajunya tidak sebagus anak-anak lainnya," kata Aziza.

Di Hari Anak Nasional kemarin, Rosmaidar, pengajar yang telah bertatap muka selama 41 tahun dengan anak murid ini hanya berpesan, anak-anak murid harus optimistis. Pendidikan tidak diukur dari mampu tidaknya ekonomi keluarga, melainkan kecerdasan.

Kamis, 09 Desember 2010

usia selamat pagi

selamat pagi usia, kini kau datang menyapa lagi
empat kota dalam warna rupamu, dan aku mengingat
air hujan diluar bercerita usia
usai lelah cerita, menyapa hangat pemudar noda
usia terasa sudah berjalan lelah
selamat tinggal usia

Jumat, 27 Agustus 2010

"suatu"

suatu waktu seorang boleh merindukan masa lalu,
suatu ketika seorang boleh mengenang masa lalu,
suatu saat seorang boleh memandang memorabilia untuk membuka memori

Ya dan Begitulah Angso Duo

Ya dan Begitulan Angso Duo

Berjalan di jalur yang becek tidak selamanya tidak akan menyenangkan, tentu ada banyak pengalaman ditemui di sana. Tanpa alas kaki atau menggunakan alas kaki seadanya bukan menjadi alasan tidak melangkahkan kaki.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya Senin (9/8/10) saya berjalan-jalan disebuah pasar tradisional terbesar di Kota Jambi. Masyarakat Tanah Pilih Pusako Betuah biasa menyebutnya dengan nama Angso Duo atau pasar tanah timbun, sebuah pasar ber-areal luas, yang menjadi pasar induk bagi barang-barang pertanian dari daerah atau kabupaten dan tempat hidup sekitar 5.500 pedagang.

Letak pasar sangat strategis, di pinggir sungai Batanghari yang notabene sungai terbesar di Provinsi Jambi dan terpanjang di pulau Sumatera. Kawasan pasar ini bisa dikatakan sebagai nadi perekonomian masyarakat, dengan pembuluh dan aliran darahnya dari dan ke kabupaten- kabupaten. Sebuah simbiosis mutualis antara kota dan desa dibangun di tempat ini.

Menurut cerita seorang sejarawan Jambi, Junaidi T Noor kepada saya, sewaktu masih berupa pelabuhan kecil daerah ini adalah embrio perekonomian kota. Bangunan ekonomi Jambi menurut dia dibangun dari sebuah pelabuhan kecil, jaman dahulu digunakan sebagai jalur perdagangan sebelum akhirnya jembatan Batanghari I dan II mengikis fungsinya.

"Sisa-sisanya pelabuhan lama masih ada. Ada boom batu disana," ujar Junaidi.

Boom batu dalam bahasa Belanda adalah pelabuhan yang dibuat dari batu. Sampai saat ini sisa-sisa bangunan yang dibangun sekitar tahun 1920-an masih ada, namun nasibnya rupanya tidak cukup beruntung. Sebuah bangunan ber 'judul' Wiltop Center atau masyarakat Jambi populer menyebutnya WTC menindihnya tanpa adab. Bangunan WTC ini berdiri tepat diatas boom batu. (bagi saya itu bisa dikatakan kekerasan modal terhadap sejarah dan budaya).

"Sebagai catatan, aktivitas perdagangan pelabuhan dahulu didominasi oleh hasil bumi asli Jambi"

Saya kira cukup sekian cerita saya mengenai kawasan itu. Oiya....ada satu lagi dibawah WTC terdapat ruang aktivitas, diantara pilar-pilar pondasi gedung kita bisa melempar kail dan menunggu ikan baung atau gabus menyambar umpan kita.

******Hari itu Senin, sekitar pukul 10.20 saya berjalan masuk lorong pasar yang sempit dan becek tanahnya. Dari situ seorang teman membawa kabar, bukan buruk, pun bukan baik. Sebuah cerita mengenai pasar Angso Duo yang memberi 'hidup' seorang anak kecil yang tidak selesai mengenyam pendidikan dasar.

"Itu tadi siapa bang ramai nian," tanya dia.

Sebuah suara anak kecil mengagetkan saya ketika sedang melihat-lihat ikan. Saat itu mataku tak menangkap tubuh seorang anak kecil pun. Aku memicingkan mata mencoba menangkap ruang di sekelilin dan dahi tibat-tiba panas. Saya pikir mana ada ikan yang bisa ngomong.

Sekitar dua detik sebuah plastik hitam muncul dari bawah meja penjual ikan disamping. Tak berapa lama sebuah tubuh utuh muncul dengan tas plastik hitam di tangan kanan. Rambut jabrik dan kulit coklat matangnya rupanya cukup menyulitkan mata menangkap bayangan manusia di bawah meja.

Dengan segera saya lontarkan pertanyaan reflek, ngapain kamu disitu?

Sambil menunjukkan kantung plastik hitam anak kecil bernama Bambang ini menjawab dirinya sedang mencari ikan. (saat itu saya pikir dirinya adalah anak pedagang ikan, namun ternyata salah).

Tak berapa lama matanya langsung menelusup ke kolong meja dan selokan kecil yang berada dibawahnya. Tanpa memperhatikan sekeliling si Bambag kecil berjalan perlahan, perhatiannya tetap tertuju pada selokan-selokan dibawah meja.

Karena penasaran, selama sekitar tiga menit mata saya mengikuti gerak bocah ini. Tiba-tiba dirinya membungkuk, dengan cekatan tangan kirinya bergerak menyambar sebuah benda terselip diantara lumpur selokan. Saat itu dalam otakku cuma berpikir awas juga mata bocah ini, tangannya pun cekatan bergerak. Dapatkah ikan, tanyaku sembari melihat tanganya.

"Ado satu, bang," katanya dengan nada gembira sembari menunjukka ikan, Menurut saya ikan tersebut jenisnya sepat karena berwarna abu-abu.

Kamu apakan nanti itu ikannya, tanyaku kepada bocah ini. Pertanyaanku dijawabnya dengan cuek, si anak ini bilang kalau setelah dapat cukup banyak kalau ada yang mau membeli akan dijualnya, namun bisa juga nanti dimasak di rumah. (rupanya dirinya tidak punya kesibukan lain selain mencari ikan)

Beberapa detik kemudian saya terhenyak, tersadar bahwa ini adalah hari Senin, itu adalah hari sekolah. Seketika itu juga saya tanyakan kepadanya apakah dia bolos? Dengan santai dijawabnya kalau dirinya tidak masuk sekolah. Hanya jawaban singkat tanpa embel-embel alasan apapun.

Pertanyaan tambahan muncul dari mulut saya, kenapa tidak masuk. Dengan santai juga di sedang cari ikan, lalu dijawabnya juga kalau dirinya tidak lagi bisa sekolah. Saat itu sebungkus rokok kusodorkan kepadanya sambil menyuruhnya mengambil sebagian.

"Kami idak merokok, bang," katanya sambil mendorong tanganku kebelakang. Saya pikir benar juga dia, cukup kecil untuk menikmati tembakau hisap ini.

Dalam ceritanya kepada saya, bocah bertempat tinggal di RT 31 Pulau Pandan, daerah yang letaknya cukup jauh dari kawasan pasar ini berhenti sekolah akibat SD-nya digusur kemudian akan digunakan untuk sebuah komplek peristirahatan elite di Kota Jambi bernama Abadi Hotel. Sebuah sekolah bernama SDN 81 yang pada tahun 2009 digusur untuk kepentingan bisnis.

"Kami berhenti (sekolah) kelas lima, bang," ujarnya santai tanpa beban pikir. Sambil terus berjalan menyusur lorong pasar yang sempit saya mengikuti aktivitas Bambang mencari ikan yang lepas di selokan pasar.

Saya hanya bisa menghela diam begitu mendengar jawaban itu kemudian berpikir apa hanya ada satu anak saja dipasar ini. Tapi ternyata tidak, dilorong bagian lain beberapa anak juga tampak mondar-mandir menunggu ikan yang lepas dari kotak pedagang ikan.

"Ini hanya bagian dari cerita 10 menit berjalan di lorong Pasar Angso Duo"(saat itu bersamaan rombongan wakil Gubernur Jambi sedang berjalan melihat kondisi pasar, beruntunglah dirinya tidak bertemu dengan bocah ini, karena kalau bertemu dan melontarkan pertanyaan yang sama kepadanya, bisa jadi saat itu Kadisdik bisa lansung dicopot)

Bagi saya kebutuhan orang bukan hanya bisa membaca atau menulis saja, diluar itu manusia butuh pengetahuan lainnya. Sebuah pertanyaan muncul dari sini!!! (dalam kisah Yunani kuno banyak juga yang mencoba membongkar dunia pendidikan)

Kalau kita mau melihat kulit luar lagi dalam kondisi kontekstual dan pragmatis atau dalam bahasa populernya kepentingan praktis, tentu berada pada posisi tidak lulus sekolah dasar sangat menyulitkan untuk seorang untuk mendapat kehidupan layak. Namun kalau melihat dalam peta permasalahan lebih luas, sudah barang pasti permasalahan struktural pendidikan bisa dibongkar disini. Perihal masalah bagaimana adik kita ini bisa berada dalam posisi yang tidak diuntungkan.

Jaman telah berubah, permasalahan tersebutb kemudian harus dibongkar strukturalis untuk kepentingan praktisnya (setidaknya untuk saat ini, *tapi kalau teman-teman tidak sependapat silakan untuk berargumentasi). Sekali lagi untuk kepentingan praktis harus dibongkar secara strukturalis, hehehehe

Pergeseran sudah terjadi, hubungan sosial manusia saat ini terbentuk karena hubungan yang struktural, dan itu 'mungkin' yang bisa dilihat saat ini. (belum terpikir oleh saya bagaimana perspektif budaya menjawab ini)

Dalam pikiran saya sebanarnya hanya sederhana saja, bagaimana adik kita ini mendapat pendidikan yang cukup layak.

Oiya....satu lagi cerita saya sempat bertemu beberapa anak di sebuah sekolah di Kota Jambi. Anak-anak ini ketika pagi hari berjualan asongan, pempek serta menjadi pengumpul rosok, kemudian siangnya masuk sekolah.

Yah....dan begitulah sekolah kehidupan.........

Jambi, 12 Agustus '10

Kisah Negeri Walminthi

Ini sebuah cerita dari negeri satwa, cerita tentang permainan anak-anak satwa yang mencoba meniru permainan manusia yang acapkali sering dilihat mereka. Namanya permainan petak umpet yang dalam bahasa jawa adalah delikan atau apalah namanya yang penting intinya mencari teman yang bersembunyi.

Alkisah gajah, semut, sapi, anjing, kucing, dan babi mencoba mempraktekkan permainan ini di negeri telendoke. Namun mereka tidak ingin menjadikannya sebagai permainan biasa, harus ada hal yang lain..... "Ada distingtif-nya," kata sapi menimpali seruan teman-teman satwa.

Tak berapa lama sepakat mereka memulai permainan dengan lokasi sebah kebun yang cukup banyak pohonnya.

Hompimpah......terdengar kalimat itu terlontar dari mulut teman satwa ini.Dan berdasarkan aturan atau rules yang telah disepakati, si sapi ternyata kurang beruntung, dia lah yang mendapat giliran jaga.

Sapi menutup kedua mata dengan kedua tangannya dan menghitung sampai sepuluh, satt menghitung itu teman satwa lain mulai mencari tempat sembunyi. (tolong jangan berpikir mana itu tangan sapi, mana itu kaki sapi dan gimana cara menutup matanya, oke....)

Hitungan kesepuluh telah selesai diteriakkan, dengan segera sapi mencari mereka. Satu menit, dua menit dan tiga menit telah berlalu, namun tak satu pun teman yang tertangkap.....tapi memasuki menit ke lima sapi berbesar kepala, si gajah yang bertubuh tambun ternyata tertangkap.

Sapi melanjutkan mencari lagi dan dua menit berlalu, kali ini giliran kucing tertangkap. Permainan dilanjutkan dan tinggal tiga satwa lagi belum tertangkap.

"Brengsek juga mereka, sembunyi kaya hantu," ujar Sapi.

Tak berapa lama babi yang tak biasa berlari cepat akhirnya tertangkap juga ketika bokongnya menyembul dibalik sebongkah batu seukuran dirinya. "Sial tertangkap juga aku," katanya menggerutu.

Dengan tertangkapnya tiga satwa, berarti masih ada dua satwa yang belum tertangkap. Karena sapi adalah hewan penyabar maka dari itu dilanjutkanlah usahanya mencaro. Dan diluar dugaan, ketika dirinya sedang berjalan mengendap-endap si semut tanpa sengaja terinjak olehnya kemudian menjerit. Disaat itulah dirinya berbesar kepala karena tinggal satu satwa saja yang belum tertangkap.



****istirahat dulu untuk bernafas sebelum melanjutkan baca



Setengah jam berlalu dengan lama, dirnya mengeluh dan teman-temannya menyarankan supaya sapi menyerah dan mengulang permainanlagi dari awal. "Kalau dari awal berarti aku yang jaga lagi. Malas ah....mending cari lagi si kucing," lontarnya sambil berjalan.

Namun usaha dan tenaganya rupanya tidak sebanding dengan kerapian kuciing dan idenya menyembunyikan diri dimana. Akhirnya di sapi bertanya kepada gajah dan semut. "Pren, dimana kucing bersembunyi?" tanyanya dengan nada memelas.

Dua temannya ini dipaksanya menunjukkan tempat persembunyian kucing, namun mereka tidak mau menjawab (bisa karena alasan tidak tahu atau memang tidak mau menunjukkan). Kembali sapi memaksa mereka, dan rupanya paksaan ke dua ini hampir berhasil sebelum akhirnya gajah melontarkan syarat kepada sapi.

"Aku tunjukkan dimana sapi sembunyi, tapi ada syaratnya...." ujar gajah.

Dengan semangat sapi mengatakan mau. "Mau, jah...apa syaratnya," kata sapi kembali bertanya.

"Satu saja. Kau cium dan jilat dulu bokongku (pantatku)....mau tidak?" kata Gajah.

Sapi terdiam sebentar, namun karena sudah muak dan ingin segera memenangkan permainan dirinya meng-iya-kan syarat tersebut. Dan untuk lima detik berikutnya hidung sapi sudah menempel di bokong gajah, dan mak...sluuupruuuuut....dijilatnya bokong si gajah.

Karena sudah mengikuti syarat tersebut, maka gajah memberi tahu kalau yang mengetahui tempat sembunyi si kucing adalah semut. Maka dengan segera sapi menanyai si semut dengan pertanyaan sama.

si semut pun tidak mau rugi dan memberitahu secara gratis. "Tidak ada yang gratis di dunia ini, harus ada pengorbanan," katanya tegas.

"Ada syaratnya, sama seperti si gajah. Kau cium bokongku dulu," ucapnya.

Dan mak sluuuu...preeee.....ttttttt......hueekkkk....juh.......

Apa yang terjadi saudara-saudara, untuk kedua kalinya sapi menjilat pantat teman satwa,berarti in dua kalinya dia merasakan bau yang sama. Karena sudah memenuhi syarat yang diajukan, kembali dirinya mendapat jawaban yang sama jiuga. Dikatakan oleh semut kalau yang mengetahui tempat sembunyi kucing adalah si babi.

Mau tak mau si sapi kemudian bertanya kepada babi dimana tempat sembunyi si kucing. "Cepet kamu kasih tau dimana kucing," katanya cepat.

"Oke....tempatnya aku tahu. Syaratnya kamu tahu kan apa?" kata babi.

"Iya.....aku tahu," kata sapi sembari menundukkan kepala dan langsung.....mak sluuu...prruuuuu...tttt....hueeeeekkkkssss...juhhh....ketiga kalinya ada pantat satwa lain yang dicium sapi

Sambil menggeleng-gelengkan kepala dirinya langsung memaksa babi mengatakan dimana kucing sembunyi.

"Cepat katakan dimana kucing sembunyi," kata sapi hampir marah.

"Tenang-tenang....aku tahu. Kucing itu sembunyi di WALMINTHI," ujarnya.

Senin, 11 Mei 2009

MASUK DALAM PUTARAN ISU PERNIKAHAN

MASUK DALAM PUTARAN ISU PERNIKAHAN

Kalau dalam Pemilu ada istilah putaran pertama dan kedua, dan adaPutaran Uruguay dalam WTO, maka dalam pernikahan ada putaran isu pernikahan

Seminggu ini saya mendapat serangan dari teman-teman. Bayangkan di-isukan menikah. Baru kali ini saya mendapat serangan isu yang begitu gencar. Yang menjadi emosi adalah beberapa teman dengan santainya menanggapi dengan beberapa komentar nyelekit (pedas) kalimat seperti ; iso kawin to koe Dul!(bisa nikah juga to kamu), po wani le-le!(apa berani) mengalir santai dalam ketikan komentar di fesbuk. Sebenarnya yang membikin tambah emosi adalah gencarnya sms berdatangan menghajar HP saya. Bajindul…..ini berarti memunculkan sebuah tugas baru, mesti sedia pulsa cadangan untuk membalas sms ni…(baca:boros) dan tukang pijat special jempol tangan karena mesti pencet hp sana-sini.

Sebenarnya saya pengin mengklarisfikasi isu tersebut, akan tetapi permainan antara serang vs klarrifikasi ini tidaklah seimbang. Sendirian saya melakukan klarifikasi dan konter isu sedangkan musuh mempunyai pusat propaganda dengan anggota tujuh orang dan punya tiga daerah teritorial, belum lagi fesbuker-fesbuker yang masuk dalam propaganda musuh. Ketujuh orang yang terbagi di tiga teritorial tersebut : Jakarta dengan Ari JP+Asat Kodok+ June, Jogja dengan Bambang Pete+Ilmi, Solo dengan Wisnu Kentoenk+Dimas Camat. Dalam hemat saya, kemungkinan prosentase berhasil untuk klarifikasi adalah dalam angka kecil. Terhitung hampir dua minggu isu tersebut gencar mamborbardir HP dan FB. Mungkin benar juga yang dikatakan orang bahwa ; tekhnologi yang berada di tangan orang yang tidak bertanggungjawab menjadikan dunia semakin buram. Dalam konteks ini (isu putaran pernikahan) siapakah orang yang tidak bertanggungjawab tidak perlu saya sebut lagi karena namanya sudah tertulis diatas. *semoga ke tujuh orang tersebut mambaca!!!!anduk……!!!lumpia…koe cah!!!*

Empat hari yang lalu, sore hari, seorang teman bernama Asat mampir ke rumah saya. Di saat bersamaan, rumah saya akan ada acara, maka tetangga banyak yang datang, Selang beberapa jam, malamnya, di fesbuk tiba-tiba saja muncul isu putaran pernikahan di kalangan terbatas. Dan hahaha….lagi-lagi tersebab majunya tekhnologi, dalam beberapa menit sudah terbentuk suatu opini di kalangan terbatas dan semakin lama semakin meluas mengenai berita yang belum teruji kebenarannya.

SEBENARNYA isu dalam propaganda teman-teman saya itu tidaklah benar. Saya coba klarifikasi disini lewat poto-poto yang akan saya pajang di album poto FB. Tentang tanggapan mengenai benar tidaknya, saya serahkan teman-teman semua karena saya bukan agen propaganda media. (haduh…bahasanya serem banget pakdhe……)yang ingin membangun opini public atau partai yang mencari simpati massa lewat iklan kampanye.

Dalam refleksi saya,
Sebuah kerinduan akan berkumpul bisa memunculkan sebuah ide baru. Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah ruang aktiitas “sekelompok orang-orang gila” beraktivitas dan berkomunikasi. Disana lahir sebuah ikatan emosional dan relasi. Di karenakan tuntutan tanggungjawab mereka dipisahkan tempat dan waktu dalam aktivitas yang baru.

Ini cuma persoalan kesulitan waktu yang tidak bisa mengumpulkan kami (baca : reuni) sehingga kami mencari suatu alternative jalan komunikasi untuk coba mengobati sebuah kerinduan untuk berkumpul. Alhasil muncullah kembali “orang-orang gila” dengan sejuta kecroh-kecrohan. Dalam tradisi kecroh-kecrohan selalu ada yang menjadi korban ledekan. Akan tetapi….aneh dan sekali lagi aneh saudara-saudara, mengapa yang menjadi korban adalah saya??? Walaupun dari dulu saya sudah terbiasa menjadi korban “tindakan criminal” teman-teman; dari kecroh-kecrohan (ledek-ledekan) iklan baterai ABC, PSK, sampai dengan bandar narkoba sudah biasa. Kali ini dalam isu putaran pernikahan kembali saya yang menjadi korban utana. Akan tetapi demi sebuah kerinduan berkomunikasi, dengan berat hati dan tanpa persetujuan akhirnya saya di jadikan korban
( *dengan wajah memelas & sebenarnya disini saya ingin menunjukkan betapa baik hati, sabar dan tidak sombongnya seorang Duan Gadul, hihihihihhi).

Kalau saya pikir, gila juga yang dilakukan teman-teman saya, setelah beberapa tahun tidak bertemu, bukan kebaikan dipupuk akan tetapi berbagai macam kegilaan., dan ini masih sama dalam suatu masa kuliah dulu dan tambah gila.

Tenggelam dalam rutinitas kerja seringkali meningkatkan kadar kekencangan saraf otak. Itu yang telah diciptakan ruang aktivita kerja kita sekarang, kita masuk dalam ruang yang secara tidak sadar melupakan sisi manusia kita yang membutuhkan interaksi, dan relaksasi. Untuk kajian filosofi manusia dan kerja teman-teman baca saja sendiri. Terjebak dalam sebuah rutinitas menjadikan seseorang tidak sadar akan lingkungan, ingatan dan eksistensinya sebagai manusia social yang hidup dalam lingkungan yang membutuhkan interaksi.

Akhir kata, sebenarnya saya sudah budreg, tak bisa berkata-kata dan cuma ingin mengatakan kepada tujuh orang tersebut diatas bahwa :
AWAS CAH….PEMBALASAN SELALU LEBIH GILA!!! LUMPIA NEXT TIME KORBANE MBOK OJO AKU!!!!

CAH-CUH BERITA DI MEDIA

Cah-cuh meneh ah…

Seminggu ini pertarungan politik di elit atas semakin panas. Bursa capres dan wapres muncul di headline surat kabar, tak terkecuali perang dengan babi yang menyerang lewat flu-nya. Tak kalah seru juga Antasari yang jadi selebritas media massa dengan dagelan penembakan Nasrudin dan tragedy di balik layar hole in one-nya dengan caddy golf Rani Juliani. Dan kemudian berita ADB juga cukup booming.

Saat pemilu mulai menimbulkan serangkaian buntut masalah yang belum selesai, tak di duga-tak disangka, seperti hujan kemarin malam, muncul geledek yang memekakkan telinga yang berakibat kita lupa ingatan, lupa akan pemilu yang bermasalah. Di media muncul berita perselingkuhan yang diakhiri penembakan dengan melibakan laki-laki pejabat dan perempuan cantik. Dari pengamatan saya terhadap teman-teman dan percakapan dengan orang yang saya jumpai di jalan ternyata masyarakat lebih suka menyimak berita-berita yang ringan dan tidak masuk dalam ranah rasio seperti : perselingkuhan pejabat dibanding concern pada masalah ekonomi social politik. Itu terbukti, dibanding berita ADB, berita AA jauh lebih popular.

Minggu lalu saat menunggu kereta Pramex., saya berbincang dengan seorang mahasiswi Fisip UGM, pertama coba saya masuk dengan sapaan ringan, setelah ada respon yang baik kemudian kami berbincang. Obrolan kami mengalir dari seputar kost-kostan, kota Jogja, kereta Pramex sampai berita koran. Ada beberapa hal yang bagi saya menarik dalam percakapan. Karena berasal dari jurusan komunikasi (jurusan idaman saya saat UMPTN tapi gagal) saya pikir dia pasti mengikuti perkembangan berita media. Dia bertanya apakah saya tahu berita AA, saya jawab singkat bahwa saya tahu sebatas berita koran, akan tetapi tidak menyimak dan kemudian dia bercerita tentang kasus AA. Teman saya ini tahu benar dan mengikuti perkembangan tentang kasus AA. Dalam kasus AA ini dia memberikan pendapat dan analisanya dalam kisah perselingkuhan AA dengan Rani, bukan pada analisa di ranah ekonomi eko-sos-pol nya. Dari nada bicara dan mimik wajahnya, sebagai wakil kaum feminis dia tersinggung dengan kasus-kasus di Indonesia yang selalu menjadikan perempuan sebagai korban. Sesaat saya terpukau menyukai cara dia berbicara, bahasa tangannya pun juga hidup dan bergerak lincah mengimbangi kalimat yang meluncur dari mulut. Dalam penutup dia bertanya kepada saya apakah perempuan memang mempunyai nilai beda/distingtif dan mempunyai sisi menarik untuk dijual oleh media??? Saya bingung maksud pertanyaan itu, tapi saya coba jawab kalau stereotip perempuan adalah cantik dan berkisar dalam keindahan, akan tetapi dalam posisinya selalu dalam posisi pinggir dan bukan sentral. Dalam kasus AA, dia hanya menjadi pelengkap bumbu berita saja, yang dijual ya cantiknya si Rani saja menurut saya.

Hamper setengah jam kami ngobrol, daripada sendirian mending ngerokok plus ditemani seorang perempuan pintar dan cantik. Pembicaraan kami mengalir menuju ADB, obrolan jadi tersendat, begitupun ketika saya coba masuk dalam pembicaraan ketimpangan dan kemiskinan structural, utang luar negeri sampai masalah demokrasi, yang nyambung hanya bahasan demokrasi. Dalam hati saya kagum sudah kuliahnya UGM, pinter, cantik, cuma satu kurangnya dia kurang respek dengan berita-berita yang tidak seksis. Karena masih ingin ngobrol dengan dia lagi, akhirnya saya potong pembicaraan ADB, hehehe kapan lagi dapat kesempatan ngobrol dengan kembarannya Dian Sastro….hahahahahha

Dalam percakapan singkat sebelum kereta datang, dia sempat bilang bahwa isu ada berbagai jenis dan tingkatan alias diatas isu masih ada isu, artinya isu ada kadar kehebohannya. Dari situ saya berpikir, pembaca mungkin lebih suka berita yang seksis (baca:menarik/unik) dan secara kebetulan (baca:mungkin) kasus AA adalah unik, walaupun sebenarnya tidak kalah unik juga berita dan fakta bahwa Indonesia terjebak utang luar negeri.

Ini memang wajar, akan tetapi saya punya sudut pandang lain dalam kasus AA. Maksud saya begini, dalam kasus ini seorang pejabat berani mengambil resiko menjalin hubungan asmara dengan orang yang notabene dari golongan ekonomi yang jauh di bawahnya. Yang menarik bagi saya dalam kasus ini ketua KPK ada fair dengan karyawan biasa. Menurut saya ini bagus dan merupakan sebuah terobosan baru. Seorang pejabat tidak harus “bermain-main/ada fair” dengan orang golongan pejabat dalam level ekonomi sama, dia bisa berhubungan/beristeri dengan masyarakat biasa (baca:tidak terkait hubungan poltik). Akan tetapi dalam itu harus sesuai aturan hokum serta norma di masyarakat. Hal ini sangat dasyat bila benar terjadi. Bayangkan dalam kejadian lain teman-teman, presiden bisa mempunyai istri petani, bupati suaminya tukang becak, Walikota tidak beristri/bersuami pengusaha dsb, akan tetapi dengan penjual lotere. Anggota DPRD beristerikan seorang PSK. Apabila ini benar terjadi, mungkin masalah ekonomi indonesia tidaklah serumit sekarang atau minimal masalah kemiskinan structural yang melekat di tubuh perekonomian negara kita sedikit terlupakan dengan adanya hal diatas…hehehe(smoga teman-teman tidak pernah lupa masalah itu).

Dunia akan jadi sangat berwarna bila ini terjadi, seperti Tuhan yang menciptakan manusia itu setara, saling melengkapi, sangatlah indah bila itu terjadi. Ini sekedar cah-cuh dan gojekan saja……dari saya.

Rabu, 06 Mei 2009

nyasar di kota solo

GARA-GARA NYASAR

Energi = Pangan = makanan = lapar/luwe = uang = daya beli= kerja = lapangan kerja = system = ???=nyasar=kuburan

Nyasar di kuburan
Kemarin malam saya puter-puter pinggiran kota Solo untuk mengantar undangan. Dari sore hari sebelum pukul enam sore berangkat, dan pulang ke rumah lagi agak malam. Di antara rasa malas karena tidak ada teman untuk di ajak dan diri saya yang penakut saya putuskan berangkat sendirian.
Wilayah sasaran pertama adalah solo bagian barat. Motor saya geber kecepatan penuh, karena cuaca sekarang sulit di tebak (maklum alam sudah rusak nih…antara musim panas dan hujan sama kacaunya), saya malas kehujanan. Pertama masuk di kawasan tersebut saya langsung bingung dan kaget. Terakhir lewat daerah itu sekitar dua tahun lalu dan masih berupa kawasan hijau persawahan. Huff….beberapa kali saya nyasar. Setelah kurang lebih satu jam apa yang terjadi??? hahaha…..akhirnya undangan masih di tangan dan sukses belum sampai ke tujuan.
Masuk ke tahap kedua menjelajah kawasan timur solo. Petualangan di kawasan ini tak kalah seru. Selepas jembatan Jurug, kira-kira lima ratus meter, saya langsung belok kiri dan mencari alamat yang dituju. Saya merasa yakin tahu jalan, tapi kenyataan berkata lain. Saya “dipaksa” bertanya kepada orang alamat tersebut, padahal pernah beberapa kali ke alamat tersebut. Dua puluh menit dan dapat bernafas lega, alamat dapat di temukan. Ternyata perumahan yang dulu kecil telah mengalami perkembangan hingga kira-kira lima kali lipat dari luas semula (hahaha…..maju juga daerah ini???)
Petualangan belum berakhir...
Beranjak pulang, saya berniat lewat jalan yang sama seperti saat berangkat, tapi rasa takut dan kelamnya malam berhasil menggagalkan tajamnya mata untuk bekerja sama memori otak untuk menelusur jalan pulang. Motor saya pacu perlahan, jalan semakin sepi dan gelap ditambah perasaan saya jadi tidak enak, beberapa kali saya melirik jam, dan waktu sudah pukul setengah sepuluh malam. Sesaat setelah melirik jam tangan, lampu motor menangkap bayangan kotak panjang berjejer-jejer. Setelah bejarak kira-kira sepuluh meter, saya berteriak “uas……u…!!!” Motor otomatis berhenti karena rem saya injak reflek, motor saya putar arah dan langsung tancap gas secepatnya, degup jantung semakin cepat siantara tarikan nafas yang tersengal…..ternyata saya telah masuk kawasan pekuburan…..huaffff, uasem…..apes tenan!!!

Tanah, Masyarakat dan Kearifan Lokal
Bangsa Indonesia memiliki khazanah kearifan local yang berkaitan dengan masalah pangan. Salah satunya terekam dalam cerita rakyat. Di kalangan masyarakat Jawa “Dewi Sri” merupakan sebuah mitos yang mendaging dalam tubuh masyarakat. Manifestasi mitos masih bertahan hingga kini dalam sebuah tradisi. Era globalisasi, yang memaksa pandangan masyarakat berada dalam arus modern, diluar dugaan masih berbaik hati (baca : belum mampu memusnahkan) menyisakan warisan tradisi kearifan lokal.

Dalam filosofi masyarakat Jawa tentang kehidupan, khususnya bagi masyarakat agraris. Dewi Sri atau Dewi Padi mempunyai peran penting. Kepercayaan akan tercapainya keseimbangan kosmos selalu ada di benak masyarakat pedesaan yang tradisional. Kesadaran bersama akan tempat dan kehidupan bersama telah ada sejak lama. Masyarakat Jawa yang secara historis merupakan masyarakat agraris sangat menghormati alam “Dewi Kesuburan (Dewi Sri) merupakan sebuah mitologi Jawa yang menggambarkan asal mula padi sebagai sumber kehidupan manusia.

Berkaitan dengan sikap hidup masyarakat Jawa agraris tersebut, penghormatan Dewi Sri juga dimanifestasikan dalam upacara adat, bersih desa. Bersih desa upacara adat masyarakat Jawa (agraris), atau merupakan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha kuasa atas panen yang telah diterima. Mitos yang membungkus kearifan lokal ini telah mengakar dalam kultur masyarakat jawa, terkhusus yang hidup dalam lingkungan agraris.

Saat itu masyarakat tradisional mungkin belum berpikir tentang ekologi secara mendalam. Mitos yang selalu mengajarkan keseimbangan alam masih dilihat dalam sudut pandang kosmos., padahal sebenarnya hal tersebut secara langsung mengajarkan kita tentang ekologi. Ketika keseimbangan system ekologi terganggu atau rusak dampaknya sangat hebat, dari ketersediaan pangan, ketahanan pangan dan sampai keberlangsungan hidup manusia. Coba kita bayangkan dunia tanpa pangan (baca:sumber pangan mahal)

Teman Saya dan Sebuah Pilihan
Dalam suatu waktu saya bertemu dengan seorang teman lama. Layaknya kawan yang lama tak berjumpa, cerita dan pertanyaan mengalir deras. Beliau bercerita cukup lengkap satu persatu teman yang masih kontak denganya. Sampai pada kabar seorang teman, anak tekhnik angkatan ’97, saya kaget, dia mengatakan teman saya ini telah menjadi petani dan memutuskan meninggalkan tuntutan serta hiruk pikuk kuliah. Belum lagi saya terdiam karena kaget, teman saya berkata “mesti koe ra percoyo, Dul!!!”, dan saya masih terdiam. Dalam sepengetahuan saya, teman ksmi ini cerdas dalam akademik, walaupun tidak mati dalam membaca situasi sosial-kemasyarakatan yang ada di tataran lokal sampai internasional. Saya di buat heran kagum sekaligus berpikir dalam saat itu juga tentang pilihan hidupnya.

Sulit menemukan panggilan hidup seperti tersebut diatas dalam situasi dan kehidupan modern dan abstrak dan kontemporer saat ini. Seperti sebuah pepatah, jangan memilih kalau tidak berani menjawab konsekuensi, kalau dia tidak siap di cap sebagai orang aneh dia tidak akan menjadi petani (walau dengan kemampuan tekhnik informatika tingkat cerdas).

Masyarakat Modern
Dunia musik tak ubahnya bunglon, sangat adaptif dan cepat sekali merespon perubahan. Dalam kurang dari dua minggu selalu ada trend musik baru (liat aja tayangan musik di tipi-tpi kalau nggak percaya….)
Tau lagu dangdut ngga?Haha….salah satu penyayi, Ridho yang notabene anak wak haji Roma muncul dengan trend baru, dangdut metal!!!
Wah jadi inget Roma irama ni….dengan lagunya “judi”….trus ada lagu “rupiah” yang jaman bapak saya muda dulu sempat booming. Dalam lagu rupiah tersebut orang mau melakukan apa saja demi uang.
Georg Simmel, sosiolog Jerman, skeptis terhadap modernisasi, yang namanya kalah tenar dari Webber, karena jarang muncul di tipi mengatakan uang adalah nilai segala sesuatu, karena telah merampas nilai segala sesuatu yang ada di dunia baik dunia manusia maupun alam. Interaksi manusia di dunia ditentukan oleh uang, dari bagaimana manusia masuk dalam kelompokny kemudian memperoleh status. Dan mungkin sampai dia mati-pun akan di tentukan oleh uang.
Mau bukti???hehe….lihat saja status orang berduit dalam sebuah lingkungan kampung dibandingkan tukang becak, lebih terhormat kan, saat mengambil peran dalam aktivitas socialpun sama juga akibatnya, dia akan dominan, dalam aktivitas politikpun apalagi, lihat saja caleg yang kebanyakan dari kalangan berduit, banyak suara tuh….!!!. Jadi dalam masyarakat modern budaya uang adalah salah satu factor yang mempercepat seseorang kehilangan jati dirinya dalam interaksi social. Oh iya….bahkan sampai dengan seseorang mati dan di makamkan pun, kalau dia tidak punya keluarga yang membayar tanah, makamnya bakalan kena gusur juga, sama persis kayak satpol PP menggusur PKL. Huff…masyarakat modern yang kehilangan jati diri….serem tuh….huff….

Pembangunanisme
Pembangunan yang kita kenal saat ini, sebenarnya merupakan warisan dari orde baru yang menerapkan model kapitalisme negara. Model pembangunan ini muncul pada tahun 1930-an, dengan berada di garis mahzab Keynesian, yang kemudian akan mengilhami paham modernisme. Teori Keynesian oleh Rostow di kembangkan jadi teori pertumbuhan, dengan mengacu bahwa masyarakat akan berkembang dari tradisional, lalu pra industri, tinggal landas, lalu masyarakat industri dan akhirnya menuju masyarakat serba kecukupan/high mass consumption. Di Indonesia teori ini di adopsi dalam bentuk Repelita( di pelajaran SD sering di sebut rencana pembangunan lima tahun).
Tujuan awalnya teori pertumbuhan pembangunan ini sebenarnya untuk membendung kekuatan sosialisme. Era pembangunanisme di mulai setelah berakhirnya kolonialisme. Era ini di tandai dengan kemerdekaan negara-negara terjajah (koloni)secara fisik, akan tetapi negara penjajah tetap melakukan kontrol lewat perubahan sosial, atau dengan kata lain hegemoni/dominasi negara berubah, bukan lagi secara fisik akan tetapi lewat ideologi/cara pandang.
Modernisasi mempunyai beberapa asumsi dasar. Pertama: pembangunan di pahami bergerak dari tradisional menuju ke modern. Modernisasi dalam cara pandang barat diterjemahkan dalam perkembangan tekhnologi (industri) dan pertumbuhan ekonomi (akumulasi capital/investasi&tabungan) dengan memandang peningkatan standar hidup hanya bisa di tempuh lewat industrialisasi. Di konteks Indonesia pandangan ini yang melandasi industrialisasi.

Kembali Sawah Kita
Berawal dari pengalaman nyasar di pekuburan, saya tersadar ternyata dalam waktu singkat kota tempat saya lahir telah menjadi asing bagi saya. Perubahan terjadi dengan cepat tanpa saya ketahui. Sungguh sayang lahan hijau yang seharusnya menjadi ruang resapan air, tempat hidup ekosistem serta ruang berlangsungnya kebudayaan tergulung arus modernisasi. Gejala perubahan yang ada tersebab penataan ruang fisik dan ekonomi ternyata mempunyai dampak besar bagi manusia yang tidak mampu mengimbanginya, atau sebenarnya malah muncul problem bahwa manusia telah tergulung dalam arus di dalam modernisme. Sebenarnya ada beberapa hal yang terangkai dalam bunga rampai di atas. Tulisan ini bentuk kekagetan saya terhadap kota saya sendiri yang telah berubah dan menjadi asing bagi saya. Saya tidak mengkritik karena saya tidak berada dalam kerangka konsep yang jelas, akan tetapi yang pasti saya kecewa dikarenakan konsep perkembangan kota yang tidak jelas menjadikan saya nyasar malam-malam di kuburan, sendirian, mendung. Terimakasih, jumpa lagi di cah-cuh saya selanjutnya.

Senin, 04 Mei 2009

cah-cuh baca wae

Berbahaya, membaca, mendengar dan melihat tanpa dasar berpikir ilmiah

Pagi-pagi baca koran, headlines media cetak dan elektronik tidak segarang tiga dan empat tahun lalu dalam mengangkat isu-isu kemanusiaan seperti berita Hari Buruh dan Hari Pendidikan Indonesia…..
Ada apa ya???
Apa karena mendekati pemilu, sehingga rawan ???hohohoho semoga bukan itu…
Atau karena pendidikan dan kesejahteraan merupakan isu-isu vital terkait kebijakan negara terhadap masyarakat, sehingga menjadi tabu untuk di sentuh media…????
Sabtu malam saya membaca sepenggal tulisan teman yang melarang anaknya nonton sinetron yang menjamur di tipi…ini sama seperti saya, anti sinetron

imajinasi
Peran dan fungsi imajinasi dalam dunia kontemporer kini mulai menggeser peran media, terutama media cetak yang menjadi medium primer dalam perkembangan wacana pengetahuan manusia. Imaji dalam terminologi komunikasi adalah gambaran, gambaran ini di dapat bukan secara instan, tetapi merupakan suatu proses mental manusia dalam membentuk pengetahuan baru yang kemudian diproyeksikannya.
Konsep imajinasi sebenarnya telah ada sejak jaman Ibrani, dalam kisah adam-hawa yang mencuri buah kebenaran. Kemudian jaman Helenis, dalam kisah Prometeus yang mencuri api Zeus kemudian membebaskan manusia dari kebutaan, di tahap ini manusia lepas dari kosmos dan berpikir tentang eksistensi dirinya. Di jaman modern, Kant yang mencoba mencari jalan damai perseteruan rasionalisme dan empirisme, dengan membuat sintesis (antara indra dan pemahaman) bahwa harus ada kemampuan aktif manusia dalam berbagai hal yang dinamakan imajinasi, kemudian ada juga pandangan imajinasi humanis dari Sartre. Sedang postmodern memandang imajinasi adalah independen dan tidak terpengaruh kekuatan-kekuatan luar ( Lacan, Foucault, Derrida).
Pengetahuan yang diterima manusia ada dua, yang
pertama : pengetahuan informatif, yaitu pengetahuan yang didapat masyarakat dari media massa-koran-televisi-dsb sebatas fakta. Karena media massa menjadi penyampai pengetahuan, maka perannya menjadi penting dalam membentuk bangunan pikir masyarakat. Sebagai contoh: berita di koran di tulis tanggal 2 Mei merupakan refleksi bagi dunia pendidikan kita, maka ketika berita tersebut muncul di media massa kemungkinan yang akan terjadi adalah masyarakat bertanya sebenarnya apa yang telah terjadi di dalam dunia pendidikan Indonesia? (manusia hanya sebatas bertanya sebuah berita).
kedua : pengetahuan ilmiah yang bersifat intelek, yaitu pengetahuan yang berkembang dan bersumber melalui intelek. Disini kemampuan analisis manusia sebagai makhluk yang berakal budi di gunakan. Kebanyaan pengetahuan ini di dapat dari buku-buku. Pengetahuan intelek penting disaat manusia memandang hakikat kebenaran suatu hal. Sebagai contoh : di koran ditulis tanggal 2 Mei merupakan refleksi bagi dunia pendidikan. Sebagai manusia yang berkemampuan intelek dia berpikir dalam suatu pengetahuan analisis tertentu, semisal : setelah membaca kemudian si pembaca berpikir dunia pendidikan kita ternyata telah masuk dalam system yang dinamakan kapitalisme dan dalam konteks Indonesia sekolah telah berjalan kearah privatisasi pendidikan yang notabene mempunyai akibat yang luar biasa pada kehidupan dan kemanusiaan (disini manusia menangkap berita dan disertai analisis).
Ada perbedaan yang mendasar antara keduanya, salah satunya disertai dengan pengetahuan analisis dan lainnya tidak.

Dari dua contoh bentuk pengetahuan diatas kita, kita kemudian menjadi tahu suatu hal baru tentang dunia pendidikan Indonesia. Dalam komunikasi setelah ada impuls seharusnya ada umpan balik, semisal ketika ada berita teman kita sakit kita kemudian membesuknya. Respon kita setelah menerima contoh berita diatas dapat bermacam-macam. Setelah dapat pengetahuan baru yang membuat kita berpikir, kemudian bisa juga kita lalu mencari buku yang berkaitan dengan dunia pendidikan; baik yang berkaitan tentang mahalnya biaya pendidikan sampai dengan konsep pendidikan ala kapitalisme yang akan dibangun Indonesia kedepan atau bahkan konsep pendidikan alternative yang humanis. Atau kalau kita berpikir lebih tajam dan bijak dalam ranah filosofis kita akan mencari pengetahuan tentang filosofi pendidikan dalam berbagai macam buku, yang digagas beberapa orang yang kritis seperti om Ivan Illich, pakde Banawiratna, uncle Paulo Freire, Romo YB Mangunwijaya dan beberapa pemikir pendidikan pedagogi kritis lainnya.

Wufff kenapa malah omongan lari ke dunia pendidikan yo????maap…maap….ternyata dunia pendidikan sangat menarik, jauh lebih baik dari sinetron di tipi-tipi…….

Kembali ke pengetahuan, pengetahuan ilmiah yang di hasilkan intelek kebanyakan tidak mendapat tempat di ruang aktivitas social manusia, kenapa?

Dalam beberapa hal seperti yang telah saya tulis di notes saya sebelumnya, pengetahuan yang di bangun media selalu mempunyai kepentingan karena tarikan ekonomi, politik maupun budaya, adapun misi dan idealismenya mendidik orang menjadi kritis menjadi bias karena kepentingan-kepentingan tersebut. Hal itulah yang membuat pengetahuan intelek kurang (baca : sedikit) mendapat perhatian dalam ruang aktivitas manusia tersebab tidak mempunyai nilai jual. Kecenderungan pragmatisme berpikir manusia yang coba di bangun media di masyarakat selalu berbenturan dengan idealisme media sebagai sarana pendidikan kritis manusia.

Ahahah….berarti disini ada permasalahan dalam proses penyampaian pengetahuan dalam ruang social manusia, terutama pengetahuan ilmiah. Sebenarnya media yang cepat dan efektif dalam penyampaian pengetahuan adalah media elektronik, akan tetapi media elektronik sering memakai bahasa yang praktis sedangkan pengetahuan ilmiah mempunyai bahasa dengan kadar pemikiran dalam, sehingga dalam penyampaiannya seringkali terlambat(lama) bahkan mereduksi makna. Karena serba praktis dan pragmatis, saat terlaksananya praksis pengetahuan sering mendahului teori, jadi sebuah teori mengalir terlambat hadir (dalam mendasari berpikir manusia). Apakah ini berarti suatu kegagalan media dalam membangun pengetahuan ilmiah manusia……????

kita dan kita
Pertanyaan “apakah……” diatas merupakan esensial, mengenai gagalnya media dalam membangun pengetahuan ilmiah dalam masyarakat. Tulisan ini tidak mempunyai maksud apa-apa , tapi saya hanya coba berbagi dengan teman-teman dalam memandang tanda-tanda perubahan jaman, seperti masalah kesejahteraan, pendidikan, kebangsaan dan masalah lain tentang kemanusiaan yang seringkali kurang (tidak) mendapat lirikan mata, telinga dan suara kita. Saya kira ruang social kita bukan hanya ruang pragmatis yang hanya mencetak kebutuhan dan bukan mencipta pemikiran. Jadi teman-teman jangan segan dan merasa berat membaca buku, jangan risih mendengar isu-isu dan berita di media terutama persoalan kemanusiaan, dan jangan berhenti berbagi pengetahuan dalam ruang apapun… Semangat!!!!

Yang perlu kita tahu : whats on 1, 2 dan 20 Mei, bahwa tanggal 1 Mei adalah Hari Buruh, 2 Mei adalah hari Pendidikan Nasional dan 20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional.

Rabu, 08 April 2009

dalam cangkir retak

ditempat ini,
ruang intelektual kita masih berjalan
garis cakrawala melukis jelas batas didepan
dan,
gores wajahmu tersamar dibalik kaca jendela kehidupan
Catatan kita terekam dalam dua cangkir kopi kental dan capucino kental, beradu menjawab ketakutan

memorabilia

kuncupmu merekah dibatas ujung penciumanku,masih sangsikah kau
membaca warna kelam esok hari, menebar hitam...
apa masih ingatanmu mencatatnya...
gejayan menangis saat langkah kita mengasah gelapnya aspal sore,
dan mungkin esok sudah berakhir

kemudian

jawabanku adalah sama, seperti puncak argo mencoba menyentuh nirwana,
kekal...
apakah kesalahan...kita besar dari rahim yang sama, dan kereta kita berjalan berlawanan
Bharatayudha adalah cerita dan Pandawa adalah bijaksana,
bagaimana ruang kita menjawab?

hohohoho

hohoho..mereka menyerang kita
Saya pengen berbagi unek-unek dengan teman-teman. Unek-unek ini muncul disaat seorang teman saya di fb tanya apa kesibukannya? Dia menjawab sedang sibuk untuk mikir nyontreng pemilu. Gila saya berpikir pemilu masih beberapa hari dan teman saya susah-susah mikir....(saya berpandangan bahwa nyoblos ya saat di tempat coblosan, nda usah pusing-pusing mikir jauh-jauh hari...ngapain)
Demikian kuatnya pengaruh dimensi ruang terhadapmanusia, dimensi ruang yang didominasi media meng-konstruksi alam pikir mnusia, mengatur bagaimana pengetahuan (realitas sosial ) dibangun oleh media. Huff...... (serem juga kalau kita tahu bangunan pengetahuan yang coba dibangun oleh media dalam otak kita)
Kita tahu, media merupakan salah satu ruang pembelajaran manusia yang mengembangkan diri melalui respon terhadap stimulus di dunia kognitifnya...manusia menangkap dengan indra mengolah dan akan membentuk suatu bangunan pengetahuan baru, dengan kata lain pengetahuan yang dibentuk akan mempengaruhi cara berpikir kita atau dengan kata lain manusia tidak akan mempunyai kebebasan dalam berpikir..dan akhirnya kehilangan daya kritis....(serem tu..)
Wah lalu apakah media mempunyai visi dan misi????
Media tentu punya idealisme sendiri, idealnya dia mempunyai peran dalam pendidikan, membangun sikap dan kesadaran kritis dan kedalaman berpikir manusia. Coba kita bayangkan, tiap hari kalau kita melihat ruang aktivitas manusia yang dipenuhi dengan segala macam iklan, kampanye, film dsb.... secara sadar dan tidak sadar kita di gempur oleh iklan.Ahaah.. mulai tahu kan bangunan berpikir apa yang akan di bentuk oleh iklan, kampanye dsb tersebut?!
Apa yang akan terjadi???Ada dua pilihan, pertama kita akan takluk oleh mereka dan yang kedua kita apatis karena sudah bosan atau tidak terpengaruh karena kita mempunyai kesadaran yang kritis dalam berpikir.

media iklan, kampanye dan serangan kepentingan dalam ruang aktivitas manusia
media mempunyai kepentingan dan misi karena di dalamnya ada pertarungan kepentingan politik, ekonomi, dan budaya( disini kalau kita telusur, budaya yang menjadi trend sekarang muncul karena media, right?!)
Determinasi-determinasi tersebut seharusnya membuat kita jadi berpikir kritis, bukannya masuk dalam arus yang akan di bentuk media melalui rasionalisasi-rasioalisasi
yang coba membangun konstruksi berpikir manusia. So...kita jangan terjebak...!

Ada pertanyaan ni...
mengapa ana-anak sekarang tidak tau lagu-lagu daerah?apakah kalah tenar dengan lagunya peterpan, ungu, green day...?hahaha
mengapa anak-anak sekarang tidak tau permainan congklak, gundu bentik dsb kalah oleh PS...?
mengapa gotong royong kalah oleh even organiser..???
ada banyak kearifan lokal yang seharusnya kita ketahui...
berbagai kearifan lokal yang tenggelam oleh arus modernisasi



lah.... media dalam konteks pemilu gimana?
teman-teman coba berpikir dan mengolah sendiri ae, tapi kita akan coba masuk dengan melihat ruang yang tercipta saat ini seperti apa, apakah sudah sesuai dengan yang kita kehendaki, apakah sudah baik, apakah sudah tertata dan demokratis?
Bagaimana dengan serangan virus kampanye sudah menjalar di otak kita hingga kita dapat berpikir dalam suatu kesadaran yang kritis?(untuk definisi kesadaran kritis teman-teman cari terminologinya sendiri yo...)

dominasi dalam ruang dan terciptanya ruang baru
ketika ruang yang ada telah penuh dengan kepentingan dan determinasi ekonomi politik dan budaya, dan masyarakat tidak menerimanya akan muncul resistensi. Dari resistensi tersebut akan menciptakan ruang baru yang dinamakan ruang kritis. Dalam teori ruang, ruang baru akan muncul sebagai bentuk resistensi atas dominasi(hegemoni dalam bahasa Gramsci )...wah jadi post-mod banget ni
dalam konteks pemilu sama saja, ketika masyarakat tidak percaya terhadap sistem yang berjalan atau kongkretnya tidak percaya caleg, akan muncul resistensi masyarakat dalam berbagai bentuk salah satunya tiak memilih atau golput....


saya tidak mengajak lo....
teman-teman rangkai sendiri antara kepentingan media-ekonomi dan politik dalam ruang yang ada, saya kira dengan daya kesadaran kritis kita bisa membacanya....semangat!!!